Paragraf-paragraf Pendek
Akhir-akhir ini saya suka berpuisi lagi. Puisi ecek-ecek sih, tentang cinta-cintaan, patah hati, sok-sok an sedih, cerita teman, pokoknya yang sepele-sepele begitu. Saya nggak bisa disuruh bikin puisi berobot ngomongin perasaan mendalam, penderitaan sesama, atau masalah negara, hehe. Ternyata kesukaan saya bikin puisi abal-abal ini turunan dari ibu saya. Beliau juga suka menulis perasaan dalam kata-kata, meskipun sekarang sudah nggak. Katanya sih sewaktu jaman SMA
Puisi saya kadang berima, kadang juga nggak. Kadang kata-kata yang kayanya terdengar bagus tiba-tiba melintas di kepala, saat itu juga harus saya tuliskan, kalau nggak pasti lupa. Jadi sering banget ada coretan-coretan di buku atau kertas-kertas HVS asal saut dari meja. Sering juga puisinya jadi nggak ter-archive dengan baik. Hilang entah kemana. Atau malah puisinya nggak selesai, cuma jadi gurindam 2 kalimat, atau mandeg, ngambang, hahaa
Suasana dan keadaan kadang juga nggak jadi jaminan untuk saya berpuisi lho. Benar-benar harus ada yang melintas dulu di kepala yang kemudian jadi trigger untuk bikin 1 atau beberapa puisi. Mungkin karena saya moody ya, jadinya gitu deh *pembelaan*. Yang jelas puisi itu cara saya menuang kata dalam kalimat-kalimat pendek penuh makna. Mungkin kaya tweeting ya, tapi kita grupkan dalam paragraf-paragraf pendek menurun ke bawah. Yang jelas puisi itu lebih sarat emosi kalo menurut saya. Lebih banyak perasaan yang dituangkan di situ
Jadi, anda suka berpuisi abal-abal juga nggak?
Juli 20, 2011 pada 2:37 am
not creative enough to make poem or even short meaningfull word
Juli 20, 2011 pada 6:19 am
Haha.. Galau tho nduk? Hehe.. Saya ndak… dah cek puisi-puisi saya? Hehehe
Juli 20, 2011 pada 2:27 pm
mana contoh puisinya? harusnya ditautin dung. di blog posterous saya, saya juga mengumpulkan puisi2 abal2 yang saya buat saat sedang jatuh cinta atau merana. tapi beberapa teman bilang bagus
Juli 22, 2011 pada 6:05 pm
mana puisinya,, mampir ke blog baru ane y? sepi pengunjung ni n sepi komentar juga