Bekerja dengan Nurani

images

Dengan tekanan darah 90/60 *gg begitu lemas karena udah terbiasa bertekanan rendah* saya ditemani ibu pergi ke dokter. Biasa lah, penyakit musim pancaroba. Ditambah sakit tenggorokan yang membuat saya tak enak makan *kok gg kurus2 ya. Hihihi*

Tiap sakit, saya selalu pergi ke dokter langganan ibu saya, Dr. Dewi Utami. Orang yang sangat bersahaja, lembut dan ramah. Setiap bertemu dengan beliau, selalu ada perasaan teduh terpancar dari diri beliau. Seorang wanita yang luar biasa.

Sore ini saya dan ibu memutuskan untuk pergi ke dokter. Hari sudah semakin senja dan biasanya semakin malam tempat praktek dokter Dewi penuh oleh orang-orang yang mengharap kesembuhan. Benar saja. Pukul 18.15, tempat itu sudah ramai. Saya tertegun, begitu banyak orang sakit di negeri ini. Saat saya dan ibu menimbang-nimbang apakah sebaiknya mengantri sekarang atau pulang terlebih dahulu,tiba-tiba sebuah becak berhenti di depan tempat praktek mungil tersebut. Seorang ibu yang berbadan gemuk dan terlihat lemas duduk tak berdaya. Terjadi keramaian. Dokter Dewi langsung keluar dari ruang prakteknya. Beliau menyadari bahwa si Ibu tak akan kuat keluar dari becak, bahkan mungkin tak dapat berdiri. Dokter Dewi tak sungkan untuk memeriksa ibu itu di depan tempat prakteknya di pinggir jalan. Dengan sabar dan dengan bahasanya yang selalu lembut itu beliau menjelaskan keadaan Ibu tersebut pada keluarganya. Ahh, sungguh pemandangan yang indah. Tak perlu memandang gengsi atau melihat siapa yang akan diperiksa. Itulah dokter Dewi. Dari orang bermobil yang kadang terlihat berhenti, atau orang-orang dengan sepeda butut atau motor-motor biasa yang lebih sering terlihat. Dokter Dewi selalu memberikan yang terbaik. Tarif yang beliau pasang cukup rendah dan itu sudah termasuk obat lho. Bahkan terkadang beliau tidak memungut biaya sepeser pun. Beliau selalu melihat keadaan pasiennya. Dokter Dewi, yang pernah menjadi inspirasi saya untuk menjadi seorang dokter berjiwa sosial *biarpun gagal* membuat saya terkagum-kagum lagi untuk kesekian kalinya.

Kegagalan saya untuk menjadi dokter dan menempatkan saya pada posisi saya saat ini sedikit banyak membuat saya yakin bahwa semua pekerjaan akan menjadi mulia bila dilakukan dengan hati nurani. Menjadi wartawan atau reporter yang arif tidak beda dengan menjadi dokter yang bijak. Hanya saja mereka memiliki ranah masing-masing untuk dikerjakan. Begitu hebatnya manusia yang memikirkan orang lain. Dan semoga kita bisa menjadi manusia yang seperti itu.

27 Tanggapan to “Bekerja dengan Nurani”

  1. pertama. . .

    jd td ke dokter nees., cepet sembuh yak andalanku. . .๐Ÿ˜€

    kok posting malem2. . .
    jgn lupa istirahat yak. . .
    bgadang bikin gendud tau. . .

  2. Kedua. . .

    hati nurani *bukan partai lho* emang selalu menuntun ke arah yg lebih baik *bukan blog lho*
    namun sayang., kita trlalu sering melupakan trlalu sering melupakan hati nurani.
    penggunaan hati nurani yg tdk proporsional membuat kita tdk menjadi manusia scara utuh.

  3. hetrik. . .

    yes., ak hetrik komen neh. . .
    Btw ibu2na sakit apa ya nees.?

  4. -ga serius mode ON-
    saya juga bukan dokter dik Nisa… tapi sy bekerja dengan hati nurani rakyat… lho…

    -serius mode ON-
    sepakat, apapun asalkan dengan niat yg tulus dan ikhlas, semua akan menjadi barokah…

    *posting ini juga pake hati nurani kan*๐Ÿ™‚

  5. Semua jenis pekerjaan dan segala aktifitasnya pastilah “bersentuhan” dengan orang lain.

    Disinilah hatinurani yang berbicara.

  6. luar biasa yang dilakukan dokter dewi itu. asli saya terharu membacanya!

  7. Pastinya, kalo kerja itu terpaksa… wuih, siksaan dan beban yang ada

  8. Hebat banget Dokter Dewi…
    jarang ada orang kayak gitu…

  9. Ckckckck..

    Setuju, setiap pekerjaan yang dilakukan dengan tulus, membuat pekerjaan lebih mulia dan berarti.
    Tentunya, tamparan keras bagi orang-orang yang bekerja hanya menuruti egonya sendiri.๐Ÿ˜ฆ

    Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.๐Ÿ™‚

  10. Begitulah seharusnya manusia berguna buat sesama, dan entah kenapa saya ga pernah nemuin dokter yang kek gitu…

    eh, ada satu. dokter di kampung yg mo dateng ke rumah krn alm. eang ga bs bangun dr tpt tidur.. hiks,, jd inget eang.. ;(

  11. yupp setuju.. berguna bagi sesama intinya

  12. dr. Dewi Utami itu prakteknya di mana ya? Baru dengar nih.
    Oya, liputan tentang sarasehan blogger tadi udah aku posting, silakan berkunjung.
    Maju terus blogger Solo!

  13. Salut deh sama dokter Dewi…
    Rupanya Shasays ini cukup peka terhadap realitas sosial di kanan-kiri…
    Salut untuk kamu tak cukup cengan acung jempol empat…
    Happy blogging!

  14. Lha Shasays sekarang sudah sehat kah???
    Salam kenal…

  15. bekerja juga harus menyenangkan kayak hobi gitu … enjoy

  16. asik kalo niat bersih
    tapi enjoi kalo tindakannya OK
    heheeee
    Salam

  17. Ahh… Ternyata masih ada orang2 baik di Indonesia kita ini ya…
    Smoga kita jg salah satu dr org2 baik tsb… ^^

  18. Amien, semoga๐Ÿ˜€

  19. Nah..itu baru dokter yang jempolan. Hebat ya?? Jarang banget loh ada Dokter yang seperti itu..
    Salam buat Dr. Dewi Utami..๐Ÿ™‚

  20. Efek Moralitas yg sangat mengesankan..

    dapet tutorial lagee buat berjalan…*di tanah fana*
    Kereeen abiss…

  21. to inidanoe : gg sekalian menuhin page aja bang? hehe . tengkyu uda hetrik๐Ÿ˜€

    to bukandokter : di sini yang ngomen ada yang dokter gg ya? hehe

    to Bunda : itu juga yang dikatakan dosen psikologi saya. Kepekaan terhadap sekitar memang penting yah

    to det : Saya juga suka sekali ma dokter satu ini. . . Tapi untungnya gag cuma Dr. Dewi yang seperti itu. Sebenarnya banyak loh orang Solo yang ternyata memikirkan orang di sekitarnya *saya juga baru tahu*

    to Raffael : Hmm. . . . terpaksa. Gg enak blaz!

    to anderwedz : iya, beliau emang hebat๐Ÿ™‚

    to Ordinary Kid : Dr. Dewi, organisasi tercinta saya, dan 5cm mengajarkan saya untuk belajar bermanfaat bagi orang lain๐Ÿ™‚

    to r1d0aja : pasti masih ada orang2 seperti itu. Gimana kalo mulia dari kita?

    to zoel : iyah. . . . .

    to Dony Alfan : Siap boz! Solo solo solo. . . . .๐Ÿ˜€
    Tar deh saya tunjukin tempat prakteknya. . . Mau langganan juga? Hehe

    to de Brave Hendriken : Haiyaaa. . . emang jempol kita ada berapa Bang? hehehe. Happy bogging slalu. . . ! !

    to Cah Sholeh : sudah lumayan. . . . Udah gg perlu ke dokter lagi. Hehe

    to Ely : kalo seseorang bisa membuat hobinya jadi pekerjaan, pasti menyenangkan banget ya

    to Sjahrir : Siipp lah bang. . . Salam juga ya๐Ÿ™‚

    to Reina : amin. . . . . . . .

    to Rita : Iya Bu Rita, semoga ya. . .

    to humorbendol : Tar saya sampaikan salamnya deh. . . ^^

    to runanc : Wuih, kalimatnya “mafia triad” banget mas *kalo minjem kata2nya mba Zoraya๐Ÿ˜€

  22. ‘talk less do more’, mdh2an kita bsa jd partner di SSC.
    btw, sy bs msk dftr bkrj dg hati nurani g? meski tak b’embel2 jd dokter
    psikolog pun bs tho,

    thx ^_^

  23. itu bener dek, sdh saatnya mmg bg Qta untuk lbh peka dan mau peduli dgn sesama…๐Ÿ™‚ Dengan bgtu pasti lbh damai dan tentram..hehe

  24. hmm, nice post, at least, dokter gak dibritain gara2 malpraktik doang.. dan dituntut oleh LSM2 yg cuma cari sepeser uang……

  25. emang harusnya dokter tu gitu. tapi aku bisa nggak ya kayak gitu, hohoho…

  26. wah, salut ama tuh dokter…
    dah punya suami belum ya..???

  27. […] saya membuka praktek murah bisa tercapai. Dulu saya pernah menulis bahwa semua orang apabila bekerja dengan nurani, maka ia akan bisa berguna bagi banyak orang. Sekarang, meski pindah fakultas, bekerja dengan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: