Aku dan Apa Kata Mereka

Dulu sewaktu masih sekolah, saya pernah bertemu dengan seseorang yang tidak dapat hidup untuk dirinya sendiri. Dia tidak dapat menjalani hari-hari dengan baik apabila tidak ingat bahwa dia survive untuk orang lain. Saat itu saya yang tak tahu bagaimana caranya supaya dia bisa bersemangat dalam hidup mengiyakan saja hal ini. Dia sekolah dengan baik karena ingat orang tua yang menyekolahkannya, dia menjadi anak baik karena merasa berhutang budi pada orang yang sudah baik kepadanya. Dia tak pernah melakukan sesuatu karena itu hal yang sangat dia inginkan dan percaya bahwa itulah yang terbaik untuknya. Sekarang setelah saya sudah kuliah dan bertemu bermacam-macam manusia, saya lebih sering berpikir tentang keinginan dan impian-impian saya. Tentang tujuan saya dalam hidup ini. Tentang apa yang menurut saya baik dan bukan menurut orang lain. Ketika itulah saya jadi berpikir lagi tentang teman saya itu. Apakah dengan hidup seperti itu dia akan menjadi orang yang bahagia? Saya memang tidak berhak men-judge apakah seseorang itu bahagia atau tidak karena kebahagiaan sendiri adalah hal yang relatif. Mungkin saja kebahagiannya adalah dengan menyenangkan orang lain. Tapi kemudian, bagaimana dengan cita-cita yang lain? Tidak adakah rasa untuk menggapai apa yang sangat kita inginkan? Kebebasan untuk mengeksplorasi diri seluas mungkin dan menjadi orang yang berhak atas dirinya sendiri.

Saya sering mengobrol dengan orang-orang yang memiliki idealisme yang terlalu tinggi. Menurut saya mereka tidak salah karena ada beberapa hal dalam pemikiran mereka yang juga sering saya rasakan. Menurut saya mereka tidak salah karena untuk mencapai kebahagiaan sejati dan mengisi lubang yang ada di hati haruslah dengan rasa tulus ikhlas dan keinginan dari dalam, bukan paksaan dari luar. Tapi menurut saya juga, ada kalanya kita harus bersikap fleksibel. Kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Dengan menerima masukan dari orang lain, mungkin kita akan menjadi orang yang lebih baik. Ketika kita sudah menentukan tujuan dan bagaimana cara mencapainya, tetapi Tuhan berkata lain, itulah saatnya kita bersikap fleksibel. Yang perlu diingat adalah, dalam menerima masukan dari orang lain itu, kita tidak lupa dengan diri kita sendiri, dengan akar pemikiran dan perasaan kita.

Mungkin apa yang saya tulis di sini dapat sedikit menjawab pertanyaan teman saya di postingan saya sebelumnya. Semoga berkenan. . .🙂

21 Tanggapan to “Aku dan Apa Kata Mereka”

  1. jadi menurut mu keak gimana yang baik??

    hanya saja menurut ku.. idealisme pun terlahir karena realita.. jadi bukan karena fleksibilitas kita untuk mencapainya,, tapi konsistensi.. hhe..

    mm,, kebijaksanaan yang terbaik seharusnya terjadi di dalam masalah.. bukan idealisme..

    nice posting.. semoga anak2 muda di luar sana bisa membacanya.. hhe..

  2. memang
    kadang sikap perlu diubah

  3. menalani hidup di dunia ini memang udu ada yang namanya idealisme untuk mengeksplorasi ide dan kreativitas pribadi, namun juga harus diimbangi dengan kerja nyata,biar gak dianggep omong doang..

    kata Bondan Prakoso :
    Tinggalkanlah gengsi..
    Hidup Berawal dari mimpi..
    lakukan yang tinggi, agar semua terjadi
    Rasakan semua peduli tuk ironi tragedi
    senang bahagia hingga kelak kau mati..

    Lha kok malah nyanyi…

  4. nisa….
    beneran nih kamu?
    hahaha..
    ga percaya kamu bisa nulis kaya gini..

    bagus buu…

  5. jadi kita harus memahami mana mimpi dan kenyataan..??

    bukankah sangat membahagiakan ketika mampu membuat orang lain bahagia..??

  6. salam kenal…
    yup, setuju, ketika kita sudah menentukan tujuan dan bagaimana cara mencapainya…. kemudian biarkan Tuhan dengan hak prerogatifnya memberikan keputusan.

  7. yang penting jangan lupa berusaha dan berdoa.. 😆

  8. Memberi juga bagian dari bahagia, bagian yang paling krusial malah

  9. absen Sha….kata kuncinya tetap ada “kebahagian”…. D

  10. karena Allah Maha Mengetahui yang baik buat hambanya..🙂

  11. nis,ajari aku nulis…

  12. jadi ingat kata chairil: nasib adalah kesunyian masing2. jadi, apa yg kita lakukan, pada dasarnya akan kita tanggung sendiri. orang lain sama sekali bukan pihak yg harus kita turuti saat mengambil sikap. sebab, nasib itu kan kesunyian, sesuatu yg akan kita jalani sendirian.

  13. aduh…
    mangenai idealisme yang terlalu tinggi..
    sebenernya aku gk seberapa suka ma orang seperti itu..
    aduh susah ngomongnya..
    tapi aku paling suka dengan kata kata yang Dengan menerima masukan dari orang lain, mungkin kita akan menjadi orang yang lebih baik.
    setuju banget..

  14. Imam Syafi’i pernah berkata; “Kita gag akan pernah bisa menuruti semua perkataan orang”. Jika kita tekah yakin apa yg kita perbuat tlh benar, lanjutkanlah!

  15. jelas… niS… km memang hebat!

  16. nisa………

    beneran nih..

    tak ku sangka kao jago nulis juga..
    ahayhahaha

  17. yg pntg skG bahagiaiN oRtu n dri sndiri dLu…
    kLo dri sndiri daH bahagia..smua yg dijalaNi akan terasa bahagiaa…;)

    *nyambuNg g sey???!!;p

  18. Kata mereka., km kok gk posting2 lg.?

  19. gmn y ngomongnya… *mikir*
    sejauh ini aQ sich mencoba utuk mmndang segala sesuatunya dgn sikap yg positif aja, karena aQ percaya klo Qta mngluarkan yg positif, yg bakal Qta dpt jg positif..🙂
    Mengakui kelebihan org lain, menerima kritikan dan masukan, serta bljr atau berush menjaid lbh baik jg perlu…itu aj kli y…
    sok teu banget dah aQ…huhuhu

  20. hmmm… apa ya… ?
    semangat…. semangat…. katanya…
    salam hangat

  21. saya suka itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: