Baluran dan Ceritanya

Saya belum pernah menulis tentang travelling story sebelumnya, jadi agak bingung gimana ya cara memulainya? Mungkin bisa dimulai dari nama tempat yang saya datangi. Taman Nasional Baluran, taman nasional yang terletak di Situbondo, Jawa Timur, kira-kira sebelah utara Banyuwangi. Baluran merupakan wilayah konservasi satwa dan tumbuhan. Perjalanan saya berlangsung dari tanggal 1 sampai 3 Juli 2011. Awalnya tidak ada rencana kesini, tapi karena ajakan seorang kawan tergiur juga saya, hehe. Perjalanan dimulai pada dini hari. Sekitar pukul 01.00 saya dan teman-teman, berjumlah 7 orang, naik bis dari depan Universitas Sebelas Maret menuju Surabaya. Kami tiba di Terminal Bungurasih kira-kira pukul 06.30 pagi. Transit Surabaya ini memang sudah direncakanan supaya kami bisa main-main dulu disana. Beruntungnya, ada yang berbaik hati mau menampung kami seharian dirumahnya, jadi selama main barang-barang bisa ditinggal kan, nggak perlu terlihat seperti orang hilang muter-muter kota bawa tas besar, hehe. Malam harinya, sekitar pukul 22.00, teman-teman yang rencananya menyusul dan bertemu di Surabaya mulai berdatangan. Total ada 12 orang yang berangkat ke Baluran. Supaya lebih mudah dan nyaman, kita menyewa mobil Elf yang muat banyak. Pukul 23.00 dimulailah perjalanan menuju timur. Dari Surabaya ke Baluran memakan waktu kurang lebih 5 sampai 6 jam. Awalnya kami berencana hunting sunrise sesampainya disana, tapi karena datang terlalu siang, sekitar pukul 5.30, jadi sunrise nggak terkejar deh.

Setelah mengumpulkan KTP, sembahyang pagi, dan molet-molet di gerbang depan, mobil melaju lagi sejauh kira-kira 25 km menuju Bekol, tempat kami akan menginap. Sepanjang jalan hanya ada hutan, pohon, hewan, dan sepertinya sekelebat saya melihat burung merak. Sesampainya di Bekol, kami bongkar muatan dan memasukkan barang-barang ke dalam pondok yang bisa disewa. Setelah cukup beristirahat, barulah kami memulai petualangan menuju pantai Bama untuk snorkling. Oh iya, kalau di wisma, jangan meninggalkan barang-barang di luar sembarangan ya, karena ada banyak monyet-monyet liar yang mulai muncul pukul 8 pagi. Jumlahnya bisa puluhan di sekitar pondok dan pantai.

Hari pertama di Baluran, kami ke Pantai Bama pada siang hari, kemudian tracking pada sore dan malam harinya. Tracking sore ke arah jalan keluar area. Kami berjalan sekitar 1 km kemudian kembali lagi. Sepanjang jalan kami main tebak-tebakan dan saling menjebak merasakan buah liar yang ada, seru sekali😀 Malamnya tracking dilakukan di jalur tersendiri. Tracking malam ini dilakukan untuk hunting Banteng. Si banteng mulai muncul sore hari, jadi malamnya kita mengendap-endap untuk melihat mereka. Langit Baluran benar-benar indah. Malam itu memang tidak ada bulan, tapi karena itu bintang-bintang bermunculan dengan indahnya. Sayang saya nggak bisa memotret dengan baik karena keterbatasan kemampuan saya. Padahal sudah diajari, tapi kok ya masih bego-bego aja😦 Malam itu kami habiskan dengan api unggun, singkong bakar, dan obrolan sampai menjelang pagi. Listrik di Baluran hanya menyala pukul 6 sore sampai 11 malam, jadi obrolan api unggun dan hunting bintang jadi kegiatan yang sangat menyenangkan.

Hari kedua, yang merupakan hari terakhir, saya bangun paling pagi. Keluar menghirup udara, dan berniat membangunkan yang lain karena sudah janjian untuk hunting sunrise, tapi nyatanya yang sudah janjian nggak ada yang bangun juga, hmmm… Tiba-tiba muncul seorang teman saya yang mau keluar melihat sunrise, kemudian disusul beberapa kawan yang lain. Kami nikmati pagi itu di savana, ditemani kawanan rusa dan pemandangan gunung Baluran yang indah.

Ketika siang mulai menjelang, kami mulai bergerak lagi, tracking di Bird Watching Trail, yang ternyata tembus sampai ke pantai. Di tengah jalan ada sebuah sumur yang disebut Sumber Manting yang dipercaya dapat membuat awet muda, wah. Saya dan sebagian kawan berjalan terus mengeksplore bagian-bagian lain pantai. Indahnya ciptaan Tuhan🙂

Sayangnya siang hari, perjalanan kami harus berakhir. Tengah hari kami harus kembali ke Surabaya karena ada teman saya yang harus mengejar pesawat menuju Jakarta. Keesokan harinya dia harus masuk mengajar di sebuah sekolah internasional. Meski pada akhirnya, mereka berdua ketinggalan pesawat dan harus naik yang keesokan paginya. Sementara sisanya, yaitu saya dan enam orang yang lain meneruskan perjalanan pulang ke Solo dari Terminal Bungurasih. Sampai di depan kampus pukul 4 pagi, kami berjalan sampai ke kos belakang kampus yang menjadi basecamp kami. Dan tahukan anda, jam 9 nya, saya dan seorang kawan yang sesama mahasiswa Pendidikan Dokter harus ujian Kardiovaskuler, dan saya nggak bisa pulang karena rumah terkunci. Kedua orang tua saya menginap sendiri di tawangmangu. Hahahahaa😀 What a trip if i must say.

Baluran telah menjadi salah satu destinasi yang menyenangkan dan tak terlupakan bagi saya. Semoga lain kali saya bisa ke tempat lain dan menuliskannya di sini. Ahh, saya memang penulis travelling experience yang buruk😀

Jadi, ada yang punya ide travelling selanjutnya?😀

Foto-foto sebagai barang bukti :

5 Tanggapan to “Baluran dan Ceritanya”

  1. Kereeeeen abiss, top nduk!

  2. nice banget foto2nya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: