Archive for the jalan-jalan Category

Baluran dan Ceritanya

Posted in jalan-jalan with tags , , , on Juli 20, 2011 by s H a

Saya belum pernah menulis tentang travelling story sebelumnya, jadi agak bingung gimana ya cara memulainya? Mungkin bisa dimulai dari nama tempat yang saya datangi. Taman Nasional Baluran, taman nasional yang terletak di Situbondo, Jawa Timur, kira-kira sebelah utara Banyuwangi. Baluran merupakan wilayah konservasi satwa dan tumbuhan. Perjalanan saya berlangsung dari tanggal 1 sampai 3 Juli 2011. Awalnya tidak ada rencana kesini, tapi karena ajakan seorang kawan tergiur juga saya, hehe. Perjalanan dimulai pada dini hari. Sekitar pukul 01.00 saya dan teman-teman, berjumlah 7 orang, naik bis dari depan Universitas Sebelas Maret menuju Surabaya. Kami tiba di Terminal Bungurasih kira-kira pukul 06.30 pagi. Transit Surabaya ini memang sudah direncakanan supaya kami bisa main-main dulu disana. Beruntungnya, ada yang berbaik hati mau menampung kami seharian dirumahnya, jadi selama main barang-barang bisa ditinggal kan, nggak perlu terlihat seperti orang hilang muter-muter kota bawa tas besar, hehe. Malam harinya, sekitar pukul 22.00, teman-teman yang rencananya menyusul dan bertemu di Surabaya mulai berdatangan. Total ada 12 orang yang berangkat ke Baluran. Supaya lebih mudah dan nyaman, kita menyewa mobil Elf yang muat banyak. Pukul 23.00 dimulailah perjalanan menuju timur. Dari Surabaya ke Baluran memakan waktu kurang lebih 5 sampai 6 jam. Awalnya kami berencana hunting sunrise sesampainya disana, tapi karena datang terlalu siang, sekitar pukul 5.30, jadi sunrise nggak terkejar deh.

Setelah mengumpulkan KTP, sembahyang pagi, dan molet-molet di gerbang depan, mobil melaju lagi sejauh kira-kira 25 km menuju Bekol, tempat kami akan menginap. Sepanjang jalan hanya ada hutan, pohon, hewan, dan sepertinya sekelebat saya melihat burung merak. Sesampainya di Bekol, kami bongkar muatan dan memasukkan barang-barang ke dalam pondok yang bisa disewa. Setelah cukup beristirahat, barulah kami memulai petualangan menuju pantai Bama untuk snorkling. Oh iya, kalau di wisma, jangan meninggalkan barang-barang di luar sembarangan ya, karena ada banyak monyet-monyet liar yang mulai muncul pukul 8 pagi. Jumlahnya bisa puluhan di sekitar pondok dan pantai.

Hari pertama di Baluran, kami ke Pantai Bama pada siang hari, kemudian tracking pada sore dan malam harinya. Tracking sore ke arah jalan keluar area. Kami berjalan sekitar 1 km kemudian kembali lagi. Sepanjang jalan kami main tebak-tebakan dan saling menjebak merasakan buah liar yang ada, seru sekali πŸ˜€ Malamnya tracking dilakukan di jalur tersendiri. Tracking malam ini dilakukan untuk hunting Banteng. Si banteng mulai muncul sore hari, jadi malamnya kita mengendap-endap untuk melihat mereka. Langit Baluran benar-benar indah. Malam itu memang tidak ada bulan, tapi karena itu bintang-bintang bermunculan dengan indahnya. Sayang saya nggak bisa memotret dengan baik karena keterbatasan kemampuan saya. Padahal sudah diajari, tapi kok ya masih bego-bego aja 😦 Malam itu kami habiskan dengan api unggun, singkong bakar, dan obrolan sampai menjelang pagi. Listrik di Baluran hanya menyala pukul 6 sore sampai 11 malam, jadi obrolan api unggun dan hunting bintang jadi kegiatan yang sangat menyenangkan.

Hari kedua, yang merupakan hari terakhir, saya bangun paling pagi. Keluar menghirup udara, dan berniat membangunkan yang lain karena sudah janjian untuk hunting sunrise, tapi nyatanya yang sudah janjian nggak ada yang bangun juga, hmmm… Tiba-tiba muncul seorang teman saya yang mau keluar melihat sunrise, kemudian disusul beberapa kawan yang lain. Kami nikmati pagi itu di savana, ditemani kawanan rusa dan pemandangan gunung Baluran yang indah.

Ketika siang mulai menjelang, kami mulai bergerak lagi, tracking di Bird Watching Trail, yang ternyata tembus sampai ke pantai. Di tengah jalan ada sebuah sumur yang disebut Sumber Manting yang dipercaya dapat membuat awet muda, wah. Saya dan sebagian kawan berjalan terus mengeksplore bagian-bagian lain pantai. Indahnya ciptaan Tuhan πŸ™‚

Sayangnya siang hari, perjalanan kami harus berakhir. Tengah hari kami harus kembali ke Surabaya karena ada teman saya yang harus mengejar pesawat menuju Jakarta. Keesokan harinya dia harus masuk mengajar di sebuah sekolah internasional. Meski pada akhirnya, mereka berdua ketinggalan pesawat dan harus naik yang keesokan paginya. Sementara sisanya, yaitu saya dan enam orang yang lain meneruskan perjalanan pulang ke Solo dari Terminal Bungurasih. Sampai di depan kampus pukul 4 pagi, kami berjalan sampai ke kos belakang kampus yang menjadi basecamp kami. Dan tahukan anda, jam 9 nya, saya dan seorang kawan yang sesama mahasiswa Pendidikan Dokter harus ujian Kardiovaskuler, dan saya nggak bisa pulang karena rumah terkunci. Kedua orang tua saya menginap sendiri di tawangmangu. Hahahahaa πŸ˜€ What a trip if i must say.

Baluran telah menjadi salah satu destinasi yang menyenangkan dan tak terlupakan bagi saya. Semoga lain kali saya bisa ke tempat lain dan menuliskannya di sini. Ahh, saya memang penulis travelling experience yang buruk πŸ˜€

Jadi, ada yang punya ide travelling selanjutnya? πŸ˜€

Foto-foto sebagai barang bukti :

Iklan

Jogja. . . . .

Posted in jalan-jalan with tags , on Januari 5, 2009 by s H a

Sudah puluhan kali saya ke Yogya. Tapi baru kemaren akhirnya saya ke keratonnya. Bener2 udik deh gag pernah ke sana. Awalnya sih saya cuma mau main-main saja ke jogja untuk mengganti malam tahun baruan saya yang gagal total *hujan semalaman*. Tapi setelah sampai sana, kenapa gag sekalian saja kan.
Saya berangkat pukul 10.30 dari rumah naik motor. Sempat ditertawakan oleh Bapak saya karena naik motor saat musim hujan begini. Wah,ternyata bener juga. Saya kehujanan di sepanjang perjalanan pulang. Sesampai di jogja, mampir di amplas (Ambarukmo Plasa) untuk makan siang. Niat awal sih makan siang. Tapi saya yang memang dasarnya gila belanja jadi shopping juga deh. Hihihi. . .
Perjalanan dilanjutkan menuju malioboro. Tentu bayak yang tahu tempat ini. Tempat yang sudah sangat terkenal sampai ke mancanegara. Kalo disini, bisa ketemu banyak bule. Hehehe πŸ˜€ Sampai di sana, bejubelan banyak orang. Gag tahan deh ramenya. . . Setelah itu barulah saya memutuskan untuk pergi ke keraton. Dengan motor perjalanan jadi lumayan cepat. Daripada jalan kan. Nah, di jalan itu kami sedikit bingung. Ada jalan yang ditutup oleh polisi, padahal gag ada apa-apa disana. Padahal kami cuma tahu jalan itu untuk sampai ke jalan malioboro. Harus tanya deh ke pasutri sewaktu berhenti di lampu merah. Alhamdulillah orangnya baik banget. Mereka menjelaskanΒ  sekaligus menunjukkan arahnya biar kita gag nyasar. Untungnya sesampai di keraton, hujan baru turun.
Untuk masuk ke area keraton, kita harus membayar tiket sebesar 3000 rupiah. Murah kan. Kita juga bisa menyewa jasa guide. Tapi saya gag tahu berapa biayanya karena saya sendiri gag memakai jasa mereka. Sayang sekali kami kesana sore. Padahal pagi harinya ada acara mencuci kereta yang diadakan satu tahun sekali. Acara ini diadakan pada hari selasa kliwon atau jumat kliwon. Tergantung mana hari yang lebih dulu pada bulan Suro. Pada acara pencucian ini masyarakat berkumpul untuk mengumpulkan air bekas pencucian tersebut. Masyarakat berebutan melakukannya. Ahh, sayang sekali saya gag bisa menyaksikannya. Saya juga ketinggalan untuk memasuki suatu area di dalam keraton. Kalau gag salah sih tempat tinggal. Pintu yang biasanya dibuka, saat itu sudah tertutup. Tak apalah. Mungkin lain kali ada kesempatan lain. Yang bisa saya lihat disana adalah foto-foto kereta kerajaan dan manekin-manekin yang menggambarkan acara kerajaan.

kereta kerajaan

refleksi

Setelah itu, keluar dari area keraton, ada seorang bapak yang menawari saya untuk berwisata dengan becaknya. Hanya 5000 rupiah. Karena agak kecewa dan kurang puas dengan kunjungan keraton, saya mau juga. Tempat pertama adalah kediaman raja atau Hamengkubuwono X beserta keluarga dan adiknya. Saya sempet kaget juga rumah pribadi seorang raja bisa digunakan sebagai tempat wisata. Di sana saya juga baru tahu kalau calon raja yang akan menggantikan raja yang sekarang adalah anak dari adik Hamengkubono X. Ini dikarenakan anak raja yang sekarang adalah putri semua, sehingga tidak ada ahli waris.

berasa keluarga raja

di kamar

Yang lebih mengagetkan adalah tiket masuk seharga 20000 rupiah. Padahal kata si bapak becak harganya 10000. Yah, mungkin ini karena hari libur ya. Di kediaman tersebut juga ada restoran loh. Tapi saya gg selera makan disana. Takut kemahalan. Hihihi. Setelah itu menuju ke tempat penjualan kaos dagadu. 1 kaos dipatok harga 35000 rupiah. Karena hujan, saya memutuskan untuk langsung kembali saja. Seharusnya sih saya bisa ke tempat pembuatan bakpia. Tapi karena hujan dan lagipula saya sudahpernah kesana, jadi ya kembali saja ke parkiran. Biarpun hujan deras, saya nekat pulang. Lagipula sudah tidak ada ide akan kemana lagi. Mungkin lain kali bisa lebih lama ada di jogja saat liburan dan tidak ada hujan πŸ™‚

*thanks to d.i.a yang mau nganterin saya kemana-mana. Saya kan gag tahu jalan* πŸ™‚

**maaf potonya banyak yang ngeblur. Ini dikarenakan kemampuan yang moto yang masih bego, dan hape yang seadanya. Laen kali kalo pakai self-timer harus lebih pinter lagi. Hehehe**

%d blogger menyukai ini: