Sudah dewasa atau Belum Dewasa

Posted in curhat dengan kaitan (tags) , , on Februari 4, 2010 by s H a

Akhir-akhir ini saya penasaran dengan kata “dewasa”. Mungkin karena sebentar lagi angka depan di umur saya akan berubah menjadi angka 2, jadi banyak juga yang memberi nasehat ini itu tentang kedewasaan pada saya. Lalu sebenarnya apa sih dewasa itu? Bukankah negara kita menganggap seseorang dewasa pada usia 17 tahun? Apa perbedaan seseorang berumur 20 tahun yang sudah dewasa dan yang belum dewasa? Sampai mana batasnya? Apakah wanita tua yang masih suka mengoleksi boneka tidak bisa disebut dewasa dan dianggap kekanak-kanakan? Sepertinya sekarang dewasa tidak dilihat dari umur saja, sampai ada istilah “dewasa sebelum waktunya”, tapi lalu timbul pertanyaan lagi, memang kapan waktu yang tepat kita menjadi dewasa?

Pendewasaan memang didapat dari pengalaman. Oleh karena itu, orang yang lebih tua sering dianggap lebih dewasa dari yang muda. Pola berpikir, perilaku, sifat, dan hal-hal lainnya pun pastilah mempengaruhi anggapan tersebut. Contoh yang mudah dan sering membuat saya tertarik adalah gaya berpacaran sebuah pasangan. Ada sahabat saya yang mengatakan bahwa kekasihnya sangat childish atau kekanak-kanakan karena sering sekali cemburu dan marah-marah, ada juga kawan saya yang lain yang bisa dibilang sudah cukup umur untuk ukuran saya, jarang bertemu dengan pacarnya, tapi tetap saling percaya dan baik-baik saja hubungannya, orang bilang itu gaya pacaran orang dewasa. Ada juga yang bilang menjadi dewasa adalah ketika kita sudah memikirkan masa depan. Teman saya yang lain lagi, umurnya 20 tahun September kemarin, perawakannya amat sangat kecil seperti anak SMP, namun otaknya selalu berkutat dengan bagaimana caranya mencari usaha yang tepat dan menghasilkan uang, cepat-cepat jadi sarjana (sekarang dia lulusan D3 Manajemen universitas negeri di jogja), dan kalo bisa ya mencari pendamping.

Apakah seperti itu yang namanya dewasa? Haduh, kok saya nggak mudeng-mudeng ya. Barusan seorang sahabat saya, lewat sebuah sms yang manis, mengatakan bahwa menjadi dewasa intinya lebih bertanggung jawab atas kehidupannya. Tanggung jawab ini bisa yang bersifat kewajiban maupun segala keputusan yang dibuatnya. Ini juga benar, karena setiap individu memang akan mempertanggungjawabkan kehidupan dan keputusan-keputusannya baik di dunia maupun di akhirat.

Lepas dari berapa umur maupun seperti apa orangnya, kedewasaan didapat dari pemikiran-pemikiran terasah dan perasaan-perasaan halus yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi juga orang lain, mau bertanggung jawab dan sukur-sukur tahu apa yang ia inginkan dalam hidup. Saya memang belum dewasa dan belum tua, tapi sedang berusaha untuk itu. Semoga suatu saat pertanyaan-pertanyaan saya ini akan terjawab baik oleh saya sendiri maupun pelajaran dari orang lain. Selamat mendewasakan diri semua…

Nah, ada yang mau belajar bareng saya? :D

Selamat Ulang Tahun Bengawan

Posted in kagak jelas dengan kaitan (tags) , , on Desember 12, 2009 by s H a

Happy birthday to us

Happy birthday to us

Happy birthday happy birthday

Happy birthday to us………………….

Ternyata Komunitas Bengawan sudah berumur satu tahun! Pertama kali bergabung, berkenalan dengan banyak orang, kesan pertama yang bergitu menggoda, haha, semua membuat kesan yang menyenangkan bagi saya :)

Sejak bergabung, saya termasuk anggota yang tidak begitu aktif, dikarenakan berbagai alasan (maaf saya nggak pernah ikut kopdar, hix), tapi bukan berarti saya nggak sayang sama kalian semua lho… Semoga dengan bertambahnya umur, Bengawan akan semakin maju juga… Amin.

Nah, mari kita sama2 ucapkan, SELAMAT ULANG TAHUN BENGAWAN… SEMOGA SEMAKIN MENGALIR SAMPAI JAUH…… :)

Nikmati Sajalah…

Posted in curhat on November 12, 2009 by s H a

Judul dan isinya nyambung nggak ya? Hahahaa… Untuk kali ini tolong dimaklumi ya. Memang saya ini sedang error berat. hehe :D Beberapa waktu yang lalu, teman saya menyarankan untuk menulis kegiatan sehari-hari di perkuliahan saya yang baru daripada tak pernah update dengan alasan saya sedang tidak mood. :D Memang saya akhir-akhir ini jarang sekali menuliskan pikiran-pikiran saya ke dalam coretan-coretan nggak jelas di blog tercinta ini. Bukan karena kepadatan kegiatan kuliah yang memang padat setengah mati maupun persiapan hajatan besar FFC yang minggu depan akan diadakan, tapi lebih karena mood saya yang memang selalu naik turun dalam updating blog. Ya ampun, saya memang bukan blogger yang baik ya :(

Mungkin bagi anak-anak kedokteran yang lain, kuliah sampai jam setengah 5 hampir setiap hari seperti yang kami lakukan tadi adalah hal biasa, tapi bagi anak-anak baru yang baru dalam tahap awal mengecap kerasnya menimba ilmu menjadi dokter, sudah membuat kami tepar. Banyak yang sakit lah, stress lah, perasaan nggak betah lah. Akan tetapi yang membuat saya senang adalah masih banyak juga yang semangat meski berbagai keadaan tadi menghinggapi. Saya juga ingin menggali semangat yang ada dalam diri saya, mengingat lagi kenapa saya memilih jurusan ini dan mengapa saya harus terus berjuang selama  5 tahun ke depan (amin), dan untuk seterusnya seumur hidup saya.

Tadi sore, seorang dosen yang sudah saya kenal sebelumnya, mengajar kelas kami. Sudah lama saya tak mengunjunginya, karena tidak enak mahasiswa kok sok kenal sama dosen, jadi rencananya sih nanti kalau blok kali ini sudah selesai, baru saya akan mengunjunginya lagi. Maaf nggih pak… hehe. Kuliah hari ini buat saya sangat “mencerahkan” kalo boleh dibilang. Selain karena bahan yang hampir sama diulang tiga kali, terimakasih kepada dr. Paramasari yang mau berbaik hari mengulanginya, saya akhirnya mendapat tempat duduk di depan setelah selama ini selalu kehabisan tempat. Saya memang bukan orang yang disiplin waktu. Itulah yang menyadarkan saya untuk lebih mengatur waktu demi diri saya sendiri juga. Coba kalau saya selalu duduk di depan seperti tadi, bukan hanya bisa mendengar dan melihat lebih baik, tapi siapa tahu bisa lebih mengerti juga. Godaan kursi belakang memang terlalu besar untuk belajar. hehe :D

Semua yang terjadi akan terasa mudah bila kita menikmatinya, rebutan kursi depan sekalipun. Semua yang saya lewati setiap harinya, setiap jamnya, setiap menitnya harus selalu dinikmati. Ketika saya belajar, ketika saya tidak tidur, ketika saya refreshing dan bercinta dengan kamera saya yang cantik, ketika saya bisa membaca beberapa halaman novel yang sudah lama belum saya selesaikan, dan saat-saat lain yang bisa saya syukuri sehingga semuanya jadi terasa lebih ringan. Sama seperti ketika selesai salat, maka doa yang biasa saya panjatkan adalah, “Ya Allah, berilah yang terbaik bagi kami.” Doa universal saja, rasanya lebih enak. Semua orang juga pasti tahu, Dia-lah yang tahu yang paling baik buat kita.

Ahh, rasanya cukuplah saya melantur kali ini. Sudah saatnya menghadap ke garapan yang lain. Ada yang mau bantuin saya belajar? :D

Melihat dan Cekikrek

Posted in kagak jelas dengan kaitan (tags) , on Oktober 19, 2009 by s H a

Kemarin, tepatnya hari Minggu, 18 Oktober 2009, saya dan beberapa teman datang ke sebuah acara yang diadakan di lapangan Pamedan Mangkunegaran. Acara tersebut bertajuk Indonesia Channel. Ternyata eh ternyata, acara tersebut ditampilkan oleh para penerima beasiswa dari luar negeri. Mereka yang belajar seni dan budaya Indonesia selama 3 bulan mempersembahkan hasil belajar mereka kemarin.

Saya mendapat undangan yang diberikan kawan saya. Untuk ditukar dengan tempat duduk dan snack katanya. Saya berangkat dengan membawa kamera kesayangan saya, undangan, dan jaket almamater. Sesampainya disana, tidak sesuai dugaan saya. “Kok tempatnya tertutup gitu ya,” pikir saya. Tidak kamera friendly, apalagi dengan lensa 18-55 mm saya yang apa adanya. Tapi dengan berbekal “yang penting motret”, saya ya cari-cari jalan aja, gimana caranya mencari posisi yang wuenak buat motret. Setelah nyelip-nyelip, nyempil-nyempil dengan badan saya yang segedhe gaban, akhirnya dapat juga posisi yang lumayan meski tak sesuai keinginan. Tapi nggak apa, yang penting motreeet…… Apalagi saya memang berniat belajar memotret pertunjukan dan panggung. Niatnya sih belajar berbagai medan dalam memotret. Doakan saja saya bisa belajar dengan baik… Amin.

Jadi, ada yang mau motret pertunjukan lagi sama saya? Butuh banyak belajar nih. Masih nol puthul….

Baju Baru Alhamdulillah, Tak Punya Pun Tak Apa-Apa

Posted in menurut saia dengan kaitan (tags) , , , on September 16, 2009 by s H a

Dalam seminggu ini, sudah dua kali saya menemani dua orang sahabat muter-muter nggak jelas di mall. Tujuan mereka sama, belanja baju. Yang pertama beli baju karena kebiasaan rutin setiap tahun sebelum lebaran, sedangkan yang kedua shopping karena baru saja mendapat THR dari ayahnya. Katanya sih kalo nggak dipakai, bakalan ditanyakan kemana uangnya lari. hehe. Saya yang cuma bertugas sebagai bodyguard dan style advisor, ya cuma ikut muter-muter nggak jelas, komentar sana-sini. Nggak beli apa-apa. haha. Tak apalah, seneng juga kalo temen tampil cantik :D

Beberapa hari saya ke tempat perbelanjaan, baik cuci mata atau untuk makan buka, tempat itu tak pernah sepi. Rameeee terus. Seperti di pasar saja. Animo masyarakat untuk berbelanja atau sekedar berjalan-jalan, yang pada ujungnya mungkin ya beli-beli juga, hehe, sangat tinggi di bulan Ramadhan. Mungkin karena masyarakat terbiasa dengan kebiasaan “serba baru” di hari lebaran. Makanya waktu bulan puasa tiba, mereka juga berduyun-duyun mencari yang serba baru itu supaya tampil beda di hari raya. Nggak ada salahnya kok dengan hal ini. Semua orang ingin tampil maksimal. Tapi nggak harus dengan “semua baru” kan… Pakai buyclean, semua jadi baru deh. hehe. Intinya, banyak cara untuk tampil beda tanpa harus keluar budget beli-beli. Kalo untuk para wanita, bisa dengan mengutak-atik baju lamanya dan membuatnya “beda”. Sekarang kan banyak tuh tips DIY alias Do It Yourself di majalah atau internet. Bisa juga dengan match baju yang sebelumnya jarang dipakai dengan baju-baju lain. Dijamin, a little effort seperti ini cukup ampuh untuk membuat perbedaan. Saya sendiri tahun ini akan memakai seragam keluarga besar dari ayah saya di Klaten, batik jahitan sendiri berwarna biru. Nanti kalau sudah jadi, semoga saya ingat untuk memamerkannya di sini. haha.

After all, mau lebaran dengan baju apapun, dengan gaya apapun, hari apapun, yang penting adalah hati kita. Semoga kita bisa memaknai Ramadhan kali ini dengan baik. Selamat hari raya Idul Fitri semua… Mohon maaf lahir dan batin ya…

Nah, ada yang mau mudik ke Klaten barang saya? :D